Wajah Manggarai Timur di Kolom Komentar Facebook

 526 total views,  2 views today


Apek Afres|Redaksi

Saya mencium beberapa situasi genting yang menggerogoti Mangggarai Timur akhir-akhir ini. Sebut saja pro-kontra tambang, DPRD yang kurang paham kode etik komunikasi dan dana bantuan untuk mahasiswa Matim di luar daerah yang belum kunjung datang.


Medsos semakin seru. Efbi khususunya. Guyonan dan lelucon yang pedis berhamburan tanpa kendali. Saling sikut. Berbagai status tentang politik paling dominan muncul ke hadapan publik. Sah saja selagi dilindungi konstitusi. Tidak menjadi soal. Justru ini menjadi warna dari demokrasi. Saya sendiri senang jika banyak yang bikin “pelangi” demokrasi. Elok dipandang.


Kembali ke kolom komentar. Saya beri komentar awal dulu. “Ide Bupati MATIM itu berbisa”. Jika ada yang mau berkomentar silakan komentar di kolom komentar tulisan ini. Mari kita berbagi pengetahuan.
Setiap hari saya selalu pantau grup Demokrasi Manggarai Timur di efbi. Yang biasa kalian tulis FB itu.

Kontennya ada yang edukatif, ada yang provokatif, ada yang menghujat, dan ada yang memancing ikan di air keruh. Saya suka yang terakhir. Berkomentar. Baca postingan, lalu berkomentar. Seru-seruan dan deg-degan. Bakar semangat.


Komentarnya asyik-asyik. Kadang-kadang menggelitik, kadang-kadang menghujat, kadang-kadang provokatif. Sesuai selera saja. Terserah. Medsos itu masyarakat tanpa kelas. Jadi, silakan berkomentar. Tentu pakai akal sehat to?


Tentang wakil rakyat yang suka maki-maki, ini sungguh menjinjikan. Meraih prestasi dengan menuai banyak komentar. Dari yang lucu ala kadarnya sampai yang terbahak-bahak, semuanya ada.


“Aku ga toe ma sanggup”
“Kok Matim memelihara Preman?”
“Kasihan sekali ”


Saya tertawa sendiri ketika membaca segelintir komentar dari berbagai komentar tentang anggota DPRD yang maki-maki itu. Lucu. Ada raut sinisme yang keras. Semuanya berbentur satu sama lain, bergema dan menghasilkan humor yang cukup elegan.


Tidak kalah seru dari masalah tentang anggota DPRD yang maki-maki. Masalah Bupati yang melegitimasi perusahan tambang sekaligus bisa menjadi tempat pariwisata juga menuai berbagai komentar. Bertubi-tubi lucunya.

Kata teman saya dari Surabaya, Bupati MATIM harus belajar dari Risma.

Kenapa? Tanya saya.

Risma, baru beberapa tahun jadi walikota sudah membubarkan Dolly. Berani sekali.

Saya pun paham maksudnya. Dolly sebagai lokasi prostitusi terbesar di Asia Tenggara adalah wisata lubang. Orang berkunjung demi lubang. Dengan kekuasannya Risma tegas menutup Dolly.

Bupati MATIM malah sebaliknya. Membuka tambang untuk wisata. Aneh sekali, lubang tambang dijadikan tempat wisata. Jangan-jangan guidenya mucikari.


Berarti ada kejanggalan yang sedang terjadi di MATIM. Kejanggalan ini mesti diretas dan dikupas tuntas dengan mempertimbangkan multi sektor. Mempertimbangkan suara-suara dari “akar rumput”, mempertimbangkan bacotan menyenangkan dari kolom komentar, mempertimbangkan suara Mahasiswa yang sering berkoar-koar, dan mempertimbangkan generasi penerus.


Jujur saja, saya lebih betah di kolom komentar ketika membaca postingan di grup Demokrasi Manggarai Timur di efbi. Ada pertarungan ide yang seru. Ada dari mahasiswanya. Ada dari pihak pemerintahannya. Ada dari masyarakatnya. Ada dari LSMnya. Semuanya pada bersatu. Bersatu dalam komentar. Komentar yang lucu-lucu, mengkritik, menghujat, sekaligus memprovokasi.

Beberapa orang saya lihat hanya menyukai dan memberi emot tawa pada komentarnya orang. Tawa karena kerancuan berpikir. Suka karena terkuak ide cemerlang. Marah karena menghujat. Wow karena memprovokasi. Akhirnya konklusi tidak ada.

Orang-orang hanya terbawa arus dan alur serunya komentar yang kemudian bingung sendiri. Yang paling seru ketika menyerang secara pribadi. Ini yang di luar konteks. Saya paling malas jika membaca hal semacam ini. Bukannya bersatu memecahkan masalah melainkan menciptakan masalah baru yang tidak perlu. Semoga bisa berkomentar secara intelektual.


Akhirnya juga saya hanya bisa tertawa. Dari kolom komentar saya bisa menertawakan Matim. Menertawakan orang-orang sebebas-bebasnya. Siapa yang tahu? Saya tertawa sendiri dalam kamar. Pekerjaan paling menyenangkan. Selamat menikmati. Mari kita tawa bersama-sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.