Wiranto Kena Tusuk, Mungkin Sial di Bulan Rosario

943 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


Edisi Redaksi|Penulis : Itok Aman|

Pembaca Tabeite yang budiman, apakah di luar sana — di media lain — Anda menemukan berita atau artikel perihal kejadian yang menimpa Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Pak Wiranto ditusuk oleh dua orang pelaku di Pandeglang, Banten? Tentu sebagai warga negara yang baik kita prihatin atas kejadian yang menimpa tokoh politik nasional ini. Apalagi sekelas menteri pertahanan. *Hmm…

Mungkin agak berlebihan kalau saya mengatakan lewat kejadian ini mengingatkan saya pada kampung halaman di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Mengingat mayoritas masyarakat Flores beragama Katolik, maka bulan Oktober dikenal sebagai Bulan Rosario. Bulan Rosario adalah bulan yang suci bagi umat Gereja Katolik, di mana kami berdevosi kepada Bunda Maria dalam sebulan penuh. Sebagai bulan yang suci, Nenek Moyang kami (Orang Katolik di Flores) mewariskan semacam sebuah larangan yang turun temurun melekat dalam budaya kami, entah dimulai dari generasi siapa. Isi larangannya; Bulan Rosario, jangan buat aneh-aneh, lebih berhati-hati saat melakukan pekerjaan, perjalanan jauh, dan jangan keluar rumah malam hari, apalagi keluar rumah yang terlalu keseringan. Sebab efeknya akan mendapatkan sial yang sangat membahayakan, bisa-bisa nyawa melayang. Syukur-syukur kalau hanya nyaris. Puji syukur kepada Bapa kalau tidak parah.

Kejadian yang menimpa Pak Wiranto terjadi di Pandeglang, Banten, Jawa Barat. Bukan di Flores. Kalau saja di Flores, saya sebagai warga Flores berani menduga bahwa peristiwa naas yang menimpa beliau ini adalah sial di Bulan Rosario. Mungkin!

Kalaupun Pak Wiranto berkunjung ke Flores, saya juga berani jamin, tidak ada yang berani menusuk beliau dengan menggunakan senjata tajam atau benda-benda berbahaya lainnya. Pak Wiranto pasti dielu-elukan oleh warga Flores. Walaupun beliau seorang politisi dan pendiri partai, di Flores sendiri perbedaan pilihan politik itu adalah hal yang lumrah, sehingga berpapasan dengan lawan politik sekalipun beliau tidak mungkin ditusuk. Apalagi seorang menteri, mantan Panglima ABRI lagi, kan tidak mungkin. Orang Flores menjunjung tinggi sikap pancasilais, sebagaimana Pancasila itu sendiri lahir di Kota Ende-Flores.

Akan tetapi, karena peristiwa ini terjadi di Pandeglang, senjata yang digunakan pelaku dikabarkan sama persis dengan yang dipakai Naruto untuk menyerang dan mengalahkan lawan. Saya tidak tahu, setan apa yang merasukimu, pelaku, hingga kau tega menusuk Pak Wiranto? Apakah kau termotivasi oleh kartun Naruto dan ingin menjadi tokoh Naruto dalam kehidupan nyata? Sialan kau, pelaku. Gara-gara kau, warganet jadi heboh menyamakan kau dengan Naruto. Apakah kau bercita-cita menjadi hokage? *Sialan!

Kembali ke Flores. Eh, kembali ke Pak Wiranto.

Pak Wiranto sendiri bukan seorang Katolik, sehingga saya tidak bisa katakan bahwa yang menimpanya itu adalah sial di bulan Rosario. Entah Pak Wiranto taat pada ajaran agamanya sendiri, itu urusan pribadinya, bukan urusan saya mengklaim ini akibat dari dosa masa lalu beliau. Dosa apa di masa lalunya? Apakah benar bahwa beliau terlibat dalam kasus pelanggaran HAM berat? Apakah benar bahwa beliau terlibat dalam peristiwa penyerangan markas Partai Demokrasi Indonesia pada 27 Juli 1996, Tragedi Trisakti, peristiwa Semanggi I dan II, penculikan dan penghilangan aktivis pro-demokrasi tahun 1997-1998, serta Biak Berdarah seperti yang diberitakan oleh media-media? Atau ada dosa-dosa lain yang dilakukan Wiranto pada Negeri tercinta ini? Mari kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Sebagai warga negara yang baik, kita mengharapkan yang terbaik pada negeri ini. Semoga kejadian ini tidak terulang kembali, kasus ini segera ditangani sesuai prosedur hukum yang berlaku, dalam mengatasi persoalan semoga adil sejak dalam pikiran. Dan, kita semua berharap agar penanganan kasus di Papua juga cepat selesai, sebab aparat negara tidak hanya bertugas mengamankan petingginya tetapi lebih daripada itu adalah peduli dengan rakyatnya. Sebuah kerajaan dibentuk karena ada masyarakatnya, demikian juga negara Indonesia tercinta ini. Pemimpin tanpa pasukan adalah nol besar.

Semoga dengan kejadian ini juga, Pak Wiranto dan petinggi-petinggi lain di negeri ini segera berefleksi, ada apa gerangan? Sebagai masyarakat juga, kita melihat ke dalam diri, apa yang sudah kita sumbangkan untuk negara ini? Sebagai pemimpin, apa yang sudah diberikan demi tercapainya bangsa yang adil, makmur dan sejahtera?

Cepat sembuh, Pak Wiranto. Sebab tak ada yang ‘abadi’ selain Bapak — sejak rezim ORBA (orde baru) Soeharto hingga rezim ORBA (orang baik) Jokowi kini, Bapak masih bersinar di Panggung politik Nasional. Perjalanan Bapak di panggung politik Indonesia patut diperhitungkan sebagai track record. Pokoknya mantap nian, Pak.

Untuk kita semua, lain kali jangan jalan-jalan dan buat yang aneh-aneh saat Bulan Rosario, awas sial. Sial seperti siapa? Seperti orang-orang yang ditimpa musibah pada bulan Mei dan Oktober, demikian menurut orang-orang Katolik di Flores.

Atau sial seperti Papua? Bukan hanya hasil tanah. Nyawapun ikut terkeruk. Bahkan Papua sudah sial sejak bukan hanya pada Bulan Rosario (Mei dan Oktober).

Sekali lagi, semoga cepat sembuh, Pak Wiranto.

Cepat sembuh, Papua.

Jangan terluka lagi, Ibu Pertiwi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *