Yanto Kitong, Anak Kampung Tak Berhenti Belajar

Perjalanan menemukan jati diri dan pulang untuk berbagi kreativitas (Sumber Foto: dokumentasi pribadi)

 286 total views,  3 views today


Itok Aman|Redaksi

Perjalanan hidup seseorang di dunia tak lain dan tak bukan adalah perjalanan untuk mencari jati diri. Menemukan sebuah kehidupan yang bahagia dan bermanfaat, bukan hanya untuk diri sendiri dan sanak keluarga, melainkan juga untuk orang lain.

Pemaknaan hidup seperti ini memang tidak dimiliki oleh setiap insan. Sebab kenyataan dan fakta hidup seperti ini biasanya lahir dalam diri orang-orang yang senantiasa terbuka, belajar untuk mendengar dan bertanya banyak serta selalu merasa banyak kekurangan dalam dirinya yang siap diisi oleh pengalaman-pengalaman hidup dan pengetahuan dari siapa pun dan di mana pun perjumpaan itu terjadi.

Pemaknaan hidup seperti ini yang juga sudah, sedang dan terus dilakoni oleh sosok anak kampung, pemilik nama lengkap Lidia Heriyanto Virsiaman. Akrab disapa Yanto dan sering menjadi perbincangan khususnya di kalangan anak muda.

Semua orang yang pernah mengenal beliau, pasti akan memunculkan beragam komentar tentang kepribadiannya. Ada yang mengenalnya sebagai pribadi yang suka bersahabat, pribadi dengan aura kebijaksanaan, berkepribadian yang mendaraskan dan mendasarkan dirinya pada nilai-nilai budaya hingga satu yang tak bisa lepas pada dirinya yakni pribadi yang selalu membuka diri untuk belajar dan berguru pada siapa pun dan di mana pun. Tentu perlu dipertegas di sini, yaitu belajar untuk hal-hal yang positif dan membangun.

Terlepas dari pujian dan juga sanjungan pada dirinya, pasti ada juga komentar-komentar yang memojokkan dirinya, tetapi semuanya itu adalah hal yang wajar. Ingat, kepribadian itu tak bisa berdiri tegak dan lahir di atas sanjungan dan pujian yang melangit, melainkan juga dari kritikan-kritikan dan bahkan cacian sekali pun. Justru di sinilah ujian tentang kerendahan hati dan kebijakan hidup yang sesungguhnya.

Satu dari sekian banyak perjalanan hidup yang terus terekam di memorinya adalah pengalaman belajar dan berguru pada orang lain. Seorang anak kampung yang hanya bermodalkan keberanian dan rasa dahaga akan pengetahuan, berani untuk menerobosi pagar rintangan untuk mencari ilmu dan pengalaman.

Tahun 2012, sosok anak kampung yang akrab disapa Yanto melampiaskan kerinduannya untuk belajar pada salah satu petani sukses di Muntilan, Jawa Tengah. Pak Gatot, itulah nama petani sukses yang identik dengan kesederhanaan namun berlimpah pengalaman dan pengetahuan. Pada orang yang tepat ini, sosok Yanto belajar bagaimana menjadi petani hortikultura yang sukses. Di balik itu, satu hal yang perlu diapresiasi adalah kehadirannya di Muntilan atas keinginan pribadi dan dibiayai pribadi. Inilah titik tertinggi sekaligus klimaks ketika seseorang mempunyai keinginan yang besar untuk belajar.

Di Muntilan, sosok Yanto tak hanya terpesona dengan keindahan kotanya yang selalu menawarkan aroma-aroma kesejukan dan keramahan penduduknya. Hal paling penting adalah, ia ada di lapangan bersama dengan Pak Gatot beserta anggota kelompok tani yang lain. Di lapangan itu, ilmu dan pengalaman menyatu menjadi satu. Itulah guru yang sesungguhnya. Setidaknya ia belajar bagaimana membangun pertanian hortikultura dengan teknik mulsa plastik.

Teknik mulsa plastik ini ternyata memiliki manfaat yakni mampu menyerap sinar matahari sampai pada akar-akarnya. Hal ini yang menjadi salah satu pemicu kualitas dari tanaman yang ditanam. Selain itu, ia juga mendapatkan pengetahuan tentang membaca kebutuhan pasar. Tanaman yang kita tanam itu harus bisa adaptif dengan kebutuhan pasar. Ini sangatlah penting agar tercipta keseimbangan antara permintaan dan juga persediaan.

Pulang Untuk Berbagi

Individualis dan egoisme sepertinya jauh dan absen dari kepribadian sosok Yanto. Pengetahuan dan pengalaman belajar bersama orang sukses nyatanya bukan untuk dikonsumsi pribadi, melainkan untuk kepentingan sesama yang juga memiliki niat dan keinginan yang sama untuk belajar. Tak tanggung-tanggung, saat kembali ke kampung halamannya di Rana Mbeling, Manggarai Timur, NTT, Yanto berusaha untuk memanfaatkan lahan kosong untuk menanam sayur.

Bermodalkan pengetahuan dan pengalaman yang didapatkannya itu, lantas ia mampu menghasilkan sayur dengan kualitas tinggi. Pekerjaan dan perjalanan menjadi petani kampung tentu bukan tanpa halangan. Air menjadi satu dari sekian banyak tantangan. Debit air yang sangat sedikit nyatanya tidak mampu mengurungkan bahkan mematikan semangat Yanto untuk terus berjuang dan bekerja keras.

Tak hanya sayuran, ia juga memanfaatkan lahan di belakang rumahnya untuk membuat kandang ternak kambing. Ada maksud dan tujuan mulia dibalik kerja kreatif ini. Kotoran kambing dijadikan sebagai modal untuk dijadikan pupuk bagi pertumbuhan dan perkembangan sayur. Kerja kreatif dan inovatif seperti ini sudah seharusnya menjadi spirit dan menjiwai kehidupan anak desa.

Tentu yang jauh lebih penting dari semuanya adalah sikap kerendahan hati untuk selalu mengetuk pintu hati setiap orang yang dijumpainya. Disana ada keinginan untuk

berbagi ilmu dan pengalaman. Bagaikan disambar petir, anak kampung yang lain merasa berterima kasih dan tentunya berbangga pada sosok Yanto yang memiliki jiwa untuk berbagi.

Beberapa anak kampung juga akhirnya ikut mempraktikan dengan menanam beragam jenis tanaman hortikultura. Jika ditanya mengapa Yanto harus kembali ke kampung? Tentu bukan semata-mata hanya ingin menikmati aroma dan suasana kampung yang sejuk. Bukan semata-mata bangga dengan kebudayaan serta semangat solidaritas dan gotong royong yang menjadi spirit hidup masyarakat di desa. Bukan juga karena ia ingin mengenang kembali masa-masa kecil sebagai anak kampung.

Jauh di atas semuanya itu, karena ia menyadari bahwa kampung dan desa dalam skala yang lebih besar adalah pusat sekaligus jantung perekonomian bagi masyarakat kota. Semuanya berasal dari desa. Karena itu, memperkuat desa dengan seluruh sektor kehidupannya adalah pekerjaan yang mulia. Itu bisa terjadi jika seseorang memiliki komitmen yang kuat untuk membangun Desa. Pada titik inilah kita berani mengatakan bahwa sosok Yanto Kitong sangat bisa diandalkan.

Anyway, diskusi dan berbagi dengan orang-orang seperti beliau ini yang sangat baik untuk dimulai dan digerakkan di desa dan kampung-kampung. Memulai dari diri sendiri, orang terdekat kemudian perlahan meluas. Maka akan menjadi luas dan panjang hal-hal baik, bukan?

Wasalam!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.