Dijamin Ampuh, Ini Kiat-kiat Sederhana Menyiksa Orang Elar

Sumber foto dari Wikipedia.co

 423 total views,  1 views today


Krisan Roman|Kontributor

Tulisan ini terinspirasi dari artikel Mojok.co edisi 3 Juli 2020. Dalam artikel tersebut, Ajeng Rizka menjabarkan lima cara menyiksa orang Indonesia dengan hal sepele. Setelah membaca artikel milik Kaka Ajeng, saya mencoba mengadopsi cara berpikirnya agar bisa menyiksa kawan, sahabat, kenalan dan handai tolan yang ‘gara-gara banyak’, juga sebagai pedoman bagi kalian, kalau-kalau  mau menyiksa orang-orang Elar. Wah, Mulia sekali saya ini.

Saya sepakat dengan pernyataan Kaka Ajeng yang kira-kira bunyinya begini; “Siksaan di zaman milenium tentu beda sama definisi siksaan zaman dulu. Di era yang serba enak ini, hanya dengan hal sepele orang-orang sudah bakal merasa tersiksa hingga terbakar perasaan bersalah yang bahkan kesalahannya tidak mereka perbuat sendiri. Nggak perlu merancang skenario kriminal dan hal-hal jahat lainnya saat mencari cara menyiksa orang, hal sepele berikut sudah tergolong jahat, Mylov” (Mojok.co). Namun, namun, namun, sebagai orang Endonesah, terus terang cara-cara yang kemudian dikemukakan Kaka Ajeng di artikelnya itu sangat tidak berdampak menyakitkan bagi saya. Saya beberapa kali membayangkan poin-poin siksaan itu tapi hasilnya sama saja. Saya tetap tertawa riang gembira nan aduhai. Saya tidak mendapat efek siksaan dari apa yang saya bayangkan. Apa beta mati rasa, Nona? Hmmmacam lagu lagi im?

Sejenak saya berpikir, mungkin saya tidak merasa tersiksa atau paling kurang ikut merasa sakit hati karena saya tinggal di Elar. Saya pikir, bisa jadi siksaan-siksaan itu tidak relevan untuk kehidupan saya di kampung; siksaan itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang kota yang hidupnya serba kekinian. Masuk akal, sih.

Berangkat dari pemikiran itu, saya menyiasati strategi baru. Meminjam alur berpikir Kaka Ajeng yang bukan pengelola dana desa ini, lalu menulis kiat-kiat penyiksaan dengan cara sederhana bagi orang-orang di kampung; orang-orang Elar, sahabat kenalan saya, bahkan mungkin juga siksaan bagi saya sendiri. Cekidot!

Matikan televisi dan tidak menonton sinetron Dari Jendela SMP

Satu-satunya hiburan di Elar adalah menonton televisi saat malam. Setelah seharian bekerja di kebun, orang-orang Elar biasa melepas lelah dengan bertandang ke rumah-rumah tetangga yang mempunyai televisi untuk menonton sinetron yang saat ini sedang naik daun; Dari Jendela SMP. Semua mama-mama di Elar serius mengikuti sinetron yang ditayangkan SCTW ini. Semua berlomba-lomba agar tidak melewati satu episode pun. Wajar saja jika mereka akan sangat emosi jika ada yangmematikan televisi atau mengganti channel saat sinetron tersebut ditayangkan. Ko tau mama mama pu cara ngomel to?

Tidak mematikan lampu pada siang hari

Elar belum dialiri listrik dari PLN sampai saat ini. Kita semua tahu itu karena memang Elar dikenal sebagai anak tiri. Wadadidaw. Tiap malam orang-orang Elar selalu pacaran dengan kegelapan. Penerangan di Elar masih menggunakan lampu pelita kecuali di rumah-rumah tertentu yang punya generator set pribadi, itu pun hanya sampai pukul 23:00. Selebihnya Elar akan gelap hingga matahari terbit. Sampai saat ini, Elar masih sangat merindukan kehadiran listrik dari negara. Dari fakta tersebut, kalian bisa bayangkan bagaimana perasaan orang Elar ketika melihat lampu-lampu yang tak dimatikan pada siang hari. Auto terpukul. Kalau bukan terpukul ya kalian yang mereka pukul! Ampun bang jago!

Berkendara dengan kecepatan di bawah 30 Km/jam di jalanan yang mulus

Kalau ada orang Elar yang datang ke tempatmu, coba saja ajak dia jalan-jalan dan berkendara dengan kecepatan kurang dari tiga puluh kilo meter per jam di jalanan aspal yang mulus. Serius, itu hal yang bikin hati orang Elar tidak tenang. Bagaimana tidak, di Elar sangat jarang kita jumpai jalanan aspal yang mulus. Jalanan ke Elar atau di Elar didominasi dengan jalanan yang sudah rusak dan lama tidak diperbaiki. Ya, namanya juga anak tiri, kan? Tentu saja orang-orang di sana tidak bisa berkendara dengan cepat apalagi sampai kebut-kebutan. Ya, kecuali beberapa sepupu Valentino Rossi yang memang punya darah atlet MotoGP. Jadi  kalau kalian juga tidak berkendara cepat alias kebut-kebutan ketika membonceng mereka di jalanan yang mulus, itu masuk kategori penyiksaan YANG KEJI!

Tidak up date harga hasil bumi

Selain menghabiskan waktu untuk belajar rasung dan menafsirkan mimpi, orang Elar juga rajin berkebun. Elar merupakan daerah penghasil beraneka macam hasil bumi seperti kopi, kakao, cengkih, kemiri, sampai yang sedang naik-naiknya, the last but not least : porang. Hasil bumi dari Elar biasanya dijual kepada pengusaha di Ruteng. Karena kendala jarak yang cukup jauh, mereka tidak bisa mengetahui perkembangan harga hasil bumi tersebut. Kalau kalian berada di Ruteng dan menjawab “neka rabo, Kes, saya tidak tahu” saat ditanya update-an terbaru harga hasil bumi, itu artinya kalian sedang menyiksa mereka. Sesungguhnya jawaban itu tidak baik bagi kesehatan mental dan psikis mereka!

Janji politik

Janji politik adalah hal yang paling menyiksa orang Elar sejauh ini. Sudah, begitu saja. Poin ini tidak usah saya jelaskan lagi. Saya bosan, muak dan mulai emosi. Huwaaah!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.