Kematian Yesus dan Refleksi Sikap Saling Memaafkan dalam Keluarga

Kristus sudah bangkit. Setelah itu apa?

 344 total views,  1 views today


Nando Sengkang | Redaksi

Sebentar lagi, kita akan merayakan paskah dalam pandemik. Ada sesuatu yang menarik jika kita ingin merayakan paskah dengan secara khusus merenungkan kematian Yesus di Kayu Salib. Pemahaman ini akan kita pelajari dari seorang filsuf dan teolog Abad Pertengahan (IV-XVI), yaitu Anselmus Canterbury (1033-1109). Ia terkenal dengan seruan “Fides quaerens intellectum, iman yang mencari pengetahuan/pemahaman.” Baginya, untuk mengerti segala hal tentang misteri Allah, pertama-tama kita harus percaya (buah iman) kemudian kita akan memperoleh pengetahuan (buah ilmu).

Kesaksian Anselmus juga sekaligus akan menjawab nafsu keingintahuan kita: Mengapa Yesus (harus) mati secara terhina di atas Kayu Salib? Jika Ia Maha Kuasa, Mengapa Ia tidak menunjukkan mukjizat-mukjizat maha dahsyat? Untuk menjawabnya, kita terlebih dahulu memahami sekilas pengantar dari kisah penciptaan segala isi bumi (bdk. Kejadian 1&2) dan kejatuhan manusia ke dalam jurang dosa (Kejadian 3).

Anselmus mengatakan bahwa pada mulanya Allah telah menciptakan segala sesuatu (manusia dan segala isi bumi) sungguh amat baik. Tatanan ciptaan Allah demikian sempurna adanya. Manusia diberi kuasa atas segala isi ciptaan, “berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (bdk. Kej 1:28).

Akan tetapi, semua runtuh kala manusia perdana jatuh ke dalam dosa. Hawa terbuai oleh tipu muslihat ular, dan Adam hanya terdiam hingga menyetujui dengan satu gigitan Buah Terlarang. Mereka sama-sama telah melakukan dosa. Yang mempermasalahkan Hawa atas embrio dosa (dosa pertama) adalah mereka yang sebenarnya berdosa, tetapi malu untuk mengakuinya. Sebaliknya, mereka yang memuji Adam adalah si pendosa yang merasa tidak berdosa. Dosa terbesar kita adalah ‘kita berdosa tetapi tidak merasa berdosa’.

Sejak kejatuhan manusia di Taman Eden, manusia telah mengandung setiap dosa dalam dirinya. Inilah yang dikenal dengan istilah “dosa asal” dari St. Agustinus (354-430). Kita semua telah mengandung dosa itu, sejak tangisan bayi hingga keheningan maut dan ajal. Kita semua sejatinya adalah semua pendosa yang sedang berziarah menuju pemulihan (pengampunan) dan penebusan kekal oleh Dia, Sang Pengampun dan Penebus.

Untuk menebus dosa manusia inilah, Allah menjelma menjadi manusia (inkarnasi), dalam diri Yesus Kristus. Kedatangan Yesus ke dunia adalah Kabar Gembira bagi kita setiap insan berdosa. Akan tetapi, penebusan dosa manusia tidak hanya berkat kehadiran Yesus di Betlehem, tetapi melalui jalan radikal dan terhina, yaitu Peristiwa Salib. Dengan Kematian di Salib, Yesus telah “membayar utang” kepada Allah. Dosa-dosa manusia yang telah melecehkan atau menodai tatanan ciptaan yang sungguh amat baik, telah dipulihkan kembali.

Sebuah analogi yang terbatas berikut ini bisa memahami renungan ini: penebusan Yesus atas dosa-dosa kita ibarat seorang ibu yang setia mencuci noda yang melekat dalam baju. Anaknya yang terkasih telah menghasilkan noda dari permainan bersama teman-teman ceria. Noda itu jika tidak dibersihkan akan terus menjadi kotor, mengganggu penampilan, hingga menciptakan kuman yang mencelakai tubuh. Sang ibu yang pengasih akan setia mencuci dan membersihkan noda itu, hingga anak-anaknya yang terkasih memakai sesuatu yang baru demi penampilan diri yang baik.

Begitu pula dengan penebusan Yesus di Salib, dosa-dosa kita telah “dicuci” dan dibersihkan. Kita telah terlahir menjadi pribadi yang baru, sehingga ketika kita jatuh ke dalam dosa yang sama, Ia sudah setia menunggu dalam curhat permohonan ampun: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (bdk. Matius 11:28).

Saling Memaafkan?

Kita sebagai insan pendosa seharusnya bersyukur karena Allah telah mengampuni kita, berkat jasa Yesus Kristus yang demikian terhina. Ia sudah memaafkan kita yang bersalah kepada-Nya dengan cara yang tidak manusiawi. Ia ditelanjangi di muka umum, diludahi oleh air liur kaum munafik, dan dipermainkan bagaikan barang-barang bekas tak terpakai.

Semua perlakuan biadab atas diri-Nya dibalas dengan hukum kasih yang demikian aneh itu, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (bdk. Matius 5:44). Hukum kasih ini dibuktikan kembali sebelum Ia menarik nafas terakhir, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34).

Lantas, Bagaimana dengan kita sendiri? Ketika sesama kita melakukan salah, Apa yang akan kita perbuat kemudian? Kita membalasnya dengan perlakukan setimpal, mengabaikan dengan bersikap “bodoh amat”, atau dengan rendah hati mengakui kesalahan? Sesuai konteks kehidupan masing-masing pribadi, akan sulit diaplikasikan jika kita tidak mau mengalah dan bersikap rendah hati mengakui kesalahan itu, hingga saling memaafkan sesama. Saling memaafkan?

Keluarga, Rumah Kita Sendiri

Kita terkadang selalu berpikir terlalu jauh akan musuh-musuh yang kita jumpai, seperti tetangga yang iri hati, teman yang menjadi “Yudas kecil”, hingga mereka yang berbeda dari segi agama dan kepercayaan lain. Yang kita lupakan adalah situasi di dalam rumah sendiri, yaitu keluarga!

Harus kita akui bahwa ketika kita mulai tumbuh menjadi dewasa, meninggalkan masa kecil yang demikian cepat, hingga menyatu dengan keluarga baru baik istri maupun suami, kita akan mengalami perubahan dalam kehidupan keluarga. Perubahan itu nyata dan demikian kita alami. Masa kecil yang penuh ceria demikian berlalu begitu saja. Masa itu tentu tidak akan kembali, namun akan indah jika kita selalu mengenangnya kala duduk bersama keluarga, bercerita dan tertawa.

Perubahan itu adalah hasil dari ego yang mulai tumbuh dalam diri kita masing-masing. Ego yang positif akan menghasilkan kehidupan keluarga yang harmonis, sebaliknya ego yang negatif akan memecah belah kehidupan harmonis sebelumnya. keluarga bernasib malang!

Ego yang negatif mulai menguasai kala kita mulai sombong dengan status yang merasa lebih atas dari yang lain. Misalnya, seorang kakak merasa superior dengan adik-adiknya. Laki-laki untuk konteks Manggarai merasa segala-galanya di atas perempuan, hingga menyingkirkan saudara/i kandung secara perlahan dari dalam rumah. Status ahli waris juga akan siap membutakan mata dan hati kita. Pertarungan secara diam-diam untuk merebut harta, takhta, dan kuasa, perlahan-lahan menjadi pisau yang merobek keharmonisan keluarga. Semuanya ini akhirnya berakhir dengan saudara (kandung) saling “membunuh”. Keluarga idaman berubah menjadi busuk, hancur, hingga bubar!

Apakah kita menyadari ini semua?

Titik Tengah

Semua ketidakharmonisan dalam keluarga akan berakhir jika kita kembali merenungkan sikap saling memaafkan pada bagian tengah tulisan ini. Sikap saling memaafkan ditempatkan pada bagian tengah adalah penyeimbang dan inti dari tulisan ini. Tengah identik dengan tidak memihak salah satu pihak, dan titik tengah akan menyeimbangi dua titik yang berlawanan atau berhadapan.

Paskah dan renungan akan kematian Yesus akan demikian indah jika kita mulai dengan sikap saling memaafkan. Pertama-tama mulailah terlebih dahulu untuk memaafkan sesama saudara dan saudari kandung terhadap setiap salah dan gesekan ego, serta argumentasi. Tinggalkanlah ego sejenak, peluklah keharmonisan keluarga yang demikian langka di zaman kacau ini. Kemudian, keluarlah dan memaafkan sesama yang bersalah.

Akhirnya, Selamat Paskah dalam pandemik. Tuhan telah memaafkan kita terlebih dahulu dalam Jalan Salib tragis, sekarang giliran kita untuk saling memaafkan saudara dan saudari, serta sesama dalam jalan Salib kehidupan keluarga. Tertarik?

Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Menuju Paskah yang Damai, 01 April 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.