“Makan di Hitam” dan Kisah Tentang PLN di Matim yang Bikin Kesal

PLN: Perusahaan Lilin Negara Foto: Pixabay.com

 403 total views,  2 views today


Dendi Sujono | Kontributor

Kampung saya di Manggarai Timur. Di sana saya lahir dan dibesarkan. Kala itu tak ada neon, lampu pijar dan lampu kelap kelip. Hanya terdapat botol, sepotong pipa pendek, kain sebagai sumbu dan sedikit minyak tanah, dijadikan andalan untuk melawan gelap. Cahayanya cukup untuk menemani belajar dan bercengkerama meski lendir hitam harus dikeluarkan dari hidung pada keesokan harinya.

Ada kisah menarik tentang lampu pelita yang kami sebut “sulu” ini. Suatu hari sebuah keluarga dikunjungi tamu dari kota. Ketika sedang asyik menikmati makan malam, tiba-tiba lampu pelita padam karena tertiup angin yang cukup kencang dari sela-sela dinding pelupuh yang mulai lapuk. Sang ibu berteriak dengan keras dari dapur.

“Oleeee Nana, jangan marah ka, kita makan di hitam sudah e.”

Selain sulu, jalan penghubung dari desa ke kota atau jalan antar desa masih berupa jalan berbatu, bahkan selebihnya sebatas jalan setapak. Kendaraan belum ada sama sekali. Hanya ada kuda yang dijadikan sebagai alat transportasi.

Misionaris Katolik waktu itu menggunakan kuda untuk melakukan pelayanan pastoral ke kampung-kampung. Biasanya selain menyediakan konsumsi bagi para misionaris, kuda tunggangan sang misionaris juga mendapat jatah air dan rumput.

Beberapa waktu kemudian sang misionaris melakukan kunjungan untuk kesekian kalinya ke kampung tersebut. Hanya saja saat ini jalannya sudah bagus dan untuk ke sana, ia mengemudikan mobil sendiri. Melihat tunggangan sang misionaris lain dari biasanya, umat yang sudah menunggu dengan rumput dan air merasa kecewa dan berkomentar tanpa beban.

“Kurang ajar,  sudah diganti kudanya, tidak mau dia makan rumput dan minum air lagi.”

Beberapa tahun berlalu, jalan-jalan mulai diperlebar meski masih berbatu dan berlumpur saat hujan. Rute tersebut sudah bisa dilalui oleh oto kol.

Naik oto kol memang repot, banyak rempongnya. Lebih menggelikan kala musim hujan tiba. Rute yang di jalur normal biasanya dua jam, kala itu bisa jadi empat, lima bahkan enam jam, lantaran jalan yang aduhai mengerikan untuk dilewati kendaraan.

Pernah suatu ketika seorang imam Katolik hendak melakukan kunjungan pastoral ke sebuah kampung di pegunungan. Sarana transportasi untuk mencapai tempat itu ya oto kol. Jadilah ia menumpang oto kol, berbaur bersama mama lele, papa lele, babi dan ayam, serta penumpang lainnya.

Ketika memasuki jalan berlumpur, mobil tak bisa lagi bergerak maju karena roda belakang terjebak kubangan. Maka semua penumpang harus turun. Kaum hawa biasanya duduk-duduk di pinggir jalan sambil ngerumpi dan makan sirih pinang.

Apes bagi kaum adam. Mereka diminta untuk menyiram sekam padi dan mendorong mobil sampai keluar dari jebakan lumpur. Saat itu sang imam ikut membantu. Melihat itu sekelompok ibu-ibu berteriak dari pinggir jalan.

“Pater, tidak usah ikut, cukup laki-laki saja.”

Bertahun-tahun kemudian listrik masuk ke beberapa desa termasuk ke rumah kami. Jadilah neon dan lampu pijar jadi bahan tontonan. Perlahan-lahan jalan mulai bagus dan orang-orang memiliki kendaraan di rumahnya masing-masing.

Tetapi perayaan kemajuan kami orang Manggarai Timur itu rupanya bertahan sebentar saja. Rasa-rasanya jalan bagus hanya untuk mereka yang karena beruntung membangun rumah di pinggir jalan lintas Flores. Mereka yang jauh dari jalur itu sepertinya tetap “makan di hitam”.

Padahal beberapa wilayah sudah dimekarkan. Bupati sudah diganti. Anggota dewan terhormat datang silih berganti mengumbar janji. Proyek atas nama rakyat berdengung berkali-kali. Tetap saja menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Makan di hitam adalah kepastian.

Itu baru tentang jalan. Soal penerangan ceritanya lain lagi. Seperti status facebook orang-orang kampung beberapa hari ini. Padam lagi, padam lagi. PLN sudah menjadi Perusahaan Lilin Negara. Lagi-lagi, makan di hitam.

Mungkin kemajuan masih enggan menyentuh jalan berbatu dan kubangan lumpur di kampung-kampung Kabupaten Manggarai Timur. Sampai-sampai jalan rusak dan lampu padam jadi headline di berbagai media pemberitaan. Sesekali beri judul “makan di hitam”.

Sampai kapan? Atau jangan-jangan karena terlanjur makan di hitam dan hitamnya pun ikut tertelan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.