Terima Kasih Mark Zuckerberg Atas Facebook Mode Gratisnya

 912 total views,  1 views today


Apec Afres|Redaksi

Heiloo gaess, ternyata perjuangan mendapat cinta sejati tidak gratis selayaknya anak kampungan macam saya yang bermodalkan efbi mode gratis. Namun, ini berbeda kawan karena tidak sama, hahah, perjuangan cinta sejati melalu jalang panjang efbi mode gratis. Mendapat cinta yang tidak gratis melalu mode yang gratis. Keren kan? Keren kan? Keren kan? Bullshit.

Bulan Agustus  2019 lalu, tanggal 24, tengah malam, kepala pecah akibat memikirkan cewe yang sering chat-chatan sampai tengah malam dengan saya. Bagaimana bisa laki-laki kurang ajar macam saya, mengandalkan efbi mode gratis mendapatkan cinta seorang perempuan yang selalu online setiap saat. Pasti seseorang yang berada kan? Dia tanya akun Instagram, nomor WA di saya. Saya bisa apa. Buta akan akun-akun macam itu. Cukaaaaraa tah. Bikin malu saja. Jiwa milenial tidak ada sama sekali. Percuma generasi Z. Sebagai laki-laki yang selalu apa adanya bukan ada apanya, saya terangkan sesuai realita bukan narasi fiktif belaka, heheh.

“Saya tidak punya akun macam itu enu, WA belum diinstal, maklum saja enu, abang pu HP masih di bawah rata-rata, saya hanya punya fesbuk dan sering pakai fesbuk yang mode gratis tu, tidak punya kuota enu”, tutur saya dengan rasa malu yang menyengat.

Waktu itu saya berjuang dengan tenaga penuh nan power. Bagaimana pun caranya saya harus dapat ini perempuan malam ini. Bagaimana tidak, chat sudah mesra high level. Tinggal sejengkal lagi bisa panggil sayang. Sayang coiiii. Sayaaanng. Saya mulai mengerahkan segala cara. Tidak hanya bermodalkan gombalan. Itu basi. Mesti cari cara yang pasti dan tepat sasaran.

Memang untuk medapatkan hati seseorang perempuan harus punya skil tingkat dewa. Hatiiii hattiii. Harus hati-hati dengan hati ee, sebab hati tak berhati-hati. Anjaayyyy. Sempat kepikiran waktu itu saya harus paparkan semua prespektif tentang cinta dan filosofinya. Prespektif filsuf harus diutarakan. Setelah dipikir-pikir, tidak usah saja, percuma juga siih. Nanti dia kewalahan juga. Teman-teman bayangkan kalo saya papar teorinya Arsitoteles, Sokrates, dan filsuf lainnya, dia pasti mampos mabok “kechatan”, hehhh. Buciiin buccciinn. Persetan saa, bukan setan juga.

“Jujur enu, saya ini orang yang tidak punya apa-apa, kecuali hati yang setia. Orangtua saya mengajarkan saya untuk menjadi orang baik bukan menjadi orang kaya karena memang tidak punya apa-apa. Mungkin enu merasa malu ketika chat dengan saya. Orang lain yang mendekati enu menggunakan Instagram dan WA, sedangkan saya hanya bermodalkan efbi mode gratis dan enu balasnya pakai fesbuk mode data. Maafkanlah saya enu, mungkin bagi enu saya sebagai penggangu yang tidak menciptakan rindu apa-apa. Sekali lagi enu saya minta maaf”, curhat saya panjang lebar malam itu.

Tidak ada cara lain malam itu selain kejujuran dan ketulusan. Cinta memang seperti itu. Kadang-kadang membuat kita ragu untuk bergerak dan kadang-kadang membuat kita malu untuk mempertahankan. Rumit dan tertekan. Saya tidak tahu mau buat malam itu. Bingung dengan segala situasi yang ada. Saya tidak pikir lagi bagaimana perasaan si enu, apakah dia masih menganggap saya sebagai laki-laki yang waras atau seseorang yang goblok karena cinta. Situasi ini membuat saya semakin buta segala. Saking butanya saya menjadi membabibuta. Keyakinan dan kepercayaan. Hanya itu. Hanya bermodalkan itu. Fuceeekk. Saya harus memberanikan diri; konklusi akhir.

Enu saya mau ngomong serius sama enu, selama ini saya hanya melihat enu pu foto di fesbuk teman, itu perjuangan saya untuk memastikan enu selalu baik-baik saja dan merapal enu pu wajah dalam rindu dan doa. Jujur, enu sudah membuat saya nyaman, enu membuat saya menjadi orang yang selalu bahagia; berada diatas segala-galanya. Makasih untuk semuanya itu enu (jantung berdebaran tak menentu, darah mengalir lebih cepat dari biasanya). Terakhir, saya mau sampaikan ini enu, ini sudah lama saya pendam. Dari pertama saya kenal dengan enu, saya jatuh hati pada enu, apakah enu mau menjadi pendamping nana pu hidup?”

Saya frontal saja waktu itu teman-teman. Laki-laki bermodalkan mode gratis harus frontal. Tikam dia. Luluh-latahkan dia. Dengan dada yang berdebaran di mana-mana saya menunggu jawaban kepastian dari si enu. Semoga dia mau eee, hahah, harapan seseorang pejuang cinta sejati. Akhrinya dia jawab juga waktu itu.

“Setelah mendengar semua kejujurannya nana, ketulusannya nana, saya juga harus jujur juga dengan nana. Saya hargai semua perjuangannya nana. Jujur, ketulusan dan kejujurannya nana sangat mendalam dan pemaknaan cintanya nana luar biasa hebat. Ketika nana jujur dengan saya, saya juga harus jujur dengan nana. Saya sudah punya pacar nana. Maaf eee”.

Read, blokir, pergi tanpa pamit. Itu pekerjaan terakhir saya malam tanggal 24 bulan agustus tahun lalu.

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan cerita saya minta maaf. Sekian!!!!

___________________________________

1 thought on “Terima Kasih Mark Zuckerberg Atas Facebook Mode Gratisnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.