SURAT UNTUK ADIK TIRI (Kepada Cinta Kasih Terbaikku)

220 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


Hai, Adikku. Apa kabar kamu sekarang?

Ada salam yang selalu hangat, dari jalanku yang sekarang terselip rindu dan doa yang terdalam.

Bagaimana tidurmu, nyenyak? Semoga ada dongeng-dongeng yang dibacakan untuk pengantar lelapmu. Rindukah kau akan cerita-ceritaku yang mengisi senggang waktu permainanmu?

Bila rindu, dengarlah ini, sekali lagi yang kutulis tentang kita.

Untukmu;

Pada siang dan malam, isi doaku tetap sama; semoga hari-harimu masih tetap selalu indah. Pada detak detik, hilir musim berganti, sama saja; isi rinduku masih tentangmu.

Aku selalu diam-diam menyebut namamu tanpa permisi pada setiap perbincanganku dengan Tuhan. Entah kau percaya atau tidak, hal yang paling membahagiakan saat aku berdoa adalah menyempatkan diri mendoakanmu. Menyatukan mimpi dan harapan kita pada sekalimat yang kubisikkan dalam hening di telinga Tuhan. Kau dan aku adalah jauh yang didekatkan rindu, jarak yang disatukan doa.

Satu ranjang dua raga berpeluk dalam satu selimut, ada mimpi-mimpi kecil yang sengaja kita rangkai sebelum terlelap. Bila terik angkasa membakar tanah, ragamu nyaris dikuasai angkara, permadani telah siap kubentangkan. Bila sedih menghantuimu, candaku menciptakan tawa di bibirmu. Kau adalah malaikat tak bersayap yang Tuhan ciptakan, dikirim langsung lewat rahim Ibumu yang dinikahi Bapakku. Apa kau tahu? Semenjak kehadiranmu, sekarang aku percaya bahwa matahari itu ada dua; yang satu menerangi bumi dan yang satu menerangi gelap dalam pikiranku. Itu adalah kamu.

Maafkan daku, Adik.

Saat kita masih bersama, entah sengaja atau tidak aku pernah membuatmu menangis. Membuatmu berteriak dengan lengking suara khasmu, bahkan hingga aku dimarahi oleh Ibu dan Bapak kita. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat untukmu sedikit paham dengan pikiranmu yang masih sepolos itu, bahwa di saat jauh dan mata kita sedang tak saling mampu bertatap, tangan kita tak saling bergandeng, raga kita tak saling merengkuh berpeluk, lantas bersekat jarak dan waktu. Kau akan paham bahwa pertengkaran-pertengkaran kecil itu yang membuatmu mengerti arti dari kerinduan. Perlahan kau akan sadar seiring bergulirnya waktu, bahwa bertahan dalam rindu membuatmu kuat dan sabar dalam menunggu untuk bertemu.

Kau tetap tabah. Kau tetap sabar. Oleh jalan yang kupilih kini kau akan lebih kuat dari Dilan dan Milea sebab mereka terlalu lemah untuk menahan rindu.

Tidak hanya kau, sama aku juga rindu saat kau belajar membaca, saat aku mengajarimu bagaimana cara berterima kasih atas setiap pemberian, seperti apa memulai bersyukur dalam sebuah doa. Aku merindukan itu.

Apa kau tahu yang kupikirkan sekarang?

Aku masih cemas, aku masih takut. Bagaimana mungkin aku bisa menjadi kakak yang baik untukmu bila mimpiku belum menjadi nyata, sedang usiamu semakin melabrak waktu beranjak remaja? Tolong, bantu aku dengan doa-doa dari suara hati kecilmu agar sesal ini tak terus menghantuiku. Sebab yang kubayangkan sekarang, bila aku tidak bisa menafkahi kedua orang tua kita, setidaknya aku bisa membelimu selembar baju dan celana, bila rejeki sedikit lebih aku bisa membelikan sandal walau tidak sampai memberimu sepatu. Biar cukup aku saja yang memakai baju dari baju yang bekas dipakai Bapak, celananya yang sudah sesak dipakainya cukup sampai di badanku saja, kamu jangan. Semoga aku bisa memberimu yang baru, dengan beberapa mainan untukmu juga, agar kau tak lagi malu dengan teman-teman sepermainanmu, juga tak hanya menggigit jari menatap mereka memeluk mainan-mainan mewah yang dibelikan orang tua mereka. Bagaimana aku tidak berbangga pada kau yang tak pernah protes dengan keadaan kita, Dik?

Sungguh!

Berulang kali aku mengucap syukur sebab beruntung memiliki adik tiri sepertimu, yang tak seperti pada dongeng, yang tak seperti cerita-cerita tetangga dan orang-orang di sekitar kita. Kau tidak pernah menjelek-jelekkan aku di hadapan Ibumu. Walaupun aku dengan begitu tega mencubitmu hingga menangis, kau tidak pernah menceritakannya di hadapan Ibu dan Bapak. Bahkan bila aku dimarahi, malah kau yang menangis, bila aku dicueki malah kau yang paling peduli, bila ada orang-orang yang mencemoohku di hadapanmu malah kau yang membelaku. Kapan aku bisa melakukan itu untukmu?

Apa kau tahu, Adik?

Saban hari setahun lebih setelah kepergian Ibuku, waktu itu Bapak berencana menikah lagi. Aku memang setuju, aku senang, sebab Bapak punya alasan untuk tetap kuat bertahan. Dia ingin mencari seorang Ibu yang memerhatikan kami menghidangkan makanan dan menyuguhkan kopi, membuat keluarga kami sempurna kembali. Jujur, sebenarnya hati kecilku sedikit takut, nuraniku seperti tak begitu sanggup menerima bila ada sosok perempuan lain yang menggantikan posisi Ibuku di rumah. Aku takut kehadiran Ibu Tiri bila saja kasih sayangnya terbagi dan cintanya tak seperti cinta Ibu kandungku sendiri.

Sekarang aku sadar. Aku benar-benar merasa berdosa, seolah hebat dan punya kuasa menghakimi kehendak Tuhan. Pada saat-saat membayangkan kekeliruanku itu, sekarang aku seperti kecil di hadapanmu, lebih pantas aku di bawah telapak kakimu. Sebab kau telah mengajarkan cinta yang luar biasa dengan cara yang paling beda. Aku akui, soal cinta dan bijaksana, selain kedua orang tua kita, kau lebih layak jadi teladan, kau pantas jadi panutan. Kau yang selalu aku banggakan di setiap puisi cinta dan rindu yang kutulis.

Maukah kau tersenyum dan memelukku bila kelak saat aku pulang ke rumah, memeluk sambil berbisik di telingamu sepatah “terima kasih” telah menjadi guru untukku?

Aku masih bertualang di jalan yang panjang, mencari jati diri sebelum menuju panjang. Selagi kau yang masih di rumah, buatlah mereka tersenyum oleh tingkahmu, ciptakan tawa yang meriah di bangsal yang kubilang kumal itu. Semoga kau masih melakukan kebiasaanmu, menyalakan lilin-lilin kecil di makam Ibuku, menyebut beberapa kata-kata doa, mengikhlaskan jiwanya berbahagia di surga dengan para malaikat.

Masih ada banyak yang ingin kutulis, kau akan selalu menjadi bagian dari judul-judul indah dalam setiap kisahku. Bila esok atau lusa ada yang memarahimu, ada yang membuatmu menangis, ada yang membuatmu malu hingga menciut, ceritakan padaku maka ia akan terluka.

Kelak bila rambutku memutih, kulitku mulai keriput; berkenankah kau merawatku sampai habis nafasku? Andai aku sudah tak mampu berbuat banyak, atau aku hilang tak berkabar, maukah kau merawat Bapak dan Ibu untuk kita? Maukah kau menjaga bagianku seperti merawat bagianmu yang telah diwariskan kepada kita?

Kelak bila waktumu tiba untuk bertualang, ada saat yang tepat kembali mengenang, saat itu pikiranmu berkata pada perasaanmu sendiri “bila tiada derita yang pernah menyerang, belum tentu aku sekuat sekarang.”

Terima kasih!

Untuk Ibumu yang telah mencintaiku yang sama seperti menyayangimu tanpa pilih kasih, untuk hadirmu di tengah keluarga kita. Beberapa orang mungkin berpikir kau bukan siapa-siapa, tapi bagiku mereka tak seberapa dibanding kamu. Anda aku hebat dalam cinta mencintai seorang gadis, maka akan kuceritakan padanya; bahwa bersamamu aku belajar mencintai dengan penuh ketulusan.

Selamat ulang tahun, Adikku. Jadilah lebih baik dariku. Jadilah yang terbaik untuk dirimu. Bapak, Mama, kami kakak-kakakmu, akan selalu sayang dan tetap bangga padamu.

Untukmu yang tersayang.

Terima kasih. Terima kasih seribu.

________

*Jakarta, 04 April 2019.*

Penulis: Itok Aman|Tua Panga|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *